ANAK 4 TAHUN
“Papa! Ikut!” bocah kecil berusia 4 tahun berusaha mengejar ayahnya yang sedang menunggangi motor.
Ia bersiap-siap untuk pergi menjemput anak satunya lagi yang duduk dikelas 4 Sekolah Dasar.
“Nggak usah, di rumah aja,” jawab sang ayah tanpa menoleh.
Si bocah langsung terdiam. Pasalnya, ini bukan pertama kali permintaannya ditolak oleh ayahnya. Wajahnya cemberut menahan tangis. Padahal ia hanya ingin menikmati suasana luar rumah sambil menjemput kakaknya sekaligus merasakan suasana sekolah yang sejak lama ia inginkan. Bosan ia seharian di rumah hanya berteman dengan asisten rumah tangga yang sudah lamban gerakannya karena usia.
“Sini main sama ibu,” kata wanita yang mulai renta.
Bocah kecil itu berlahan memasuki rumah sambil mengganggam erat kaosnya. Ia menahan tangis. Ia sedih, mungkin juga marah. Bermain dengan si Ibu tentulah berbeda rasanya kalau bermain dengan ayahnya.
Ia lalu duduk menghadap televisi sambil mengunyah biskuit yang sebenarnya tidak ia suka. Tas kecil yang berisi peralatan menulis bekas kakaknya ia biarkan berserakan di lantai. Padahal biasanya ia rajin sekali memainkannya. Dengan bersemangat, ia akan berperan sebagai anak sekolah dan berbicara sendiri seolah-olah ia dikelilingi teman sekelas.
Tapi saat ini tidak, air matanya menggenang tapi isakannya tidak terdengar.
Tidak lama kemudian suara motor mendekati rumah, itu suara ayahnya pulang bersama kakaknya. Ia tidak terlihat antusias meyambut mereka seperti biasanya. Air matanya masih menggenang, tapi kali ini mulai mengalir hingga berjatuhan melewati pipi. Suara isakan tangisnya masih juga tidak terdengar.
“Lho kok nangis?” tanya si ayah sambil mengusap air mata putranya.
Ia diam tidak menjawab. Air matanya mengalir tapi isakannya tidak terdengar.
Komentar
Posting Komentar