SEJARAH PERJALANAN KARIR PJ
Dulu,
pertama kali jadi PJ waktu angkatan 5 akan dibuka sekitar awal tahun 2016. Saat
itu saya baru saja lulus KMO angkatan ke-4. Artinya hanya jeda beberapa bulan
setelah kelas ke 4 selesai. Ada beberapa teman seangkatan yang ikut
mendaftarkan diri jadi PJ, sampai bertahun-tahun kemudian hanya tinggal
beberapa saja yang tersisa di bangku PJ, termasuk saya.
Kelas
dimulai, saya sudah mempersiapkan diri menjadi orang yang sok tahu, sok bijak,
dan sok tua. Kelas hari pertama selesai, dan kejutan baru dimulai, yaitu notifikasi.
Baik dari Facebook maupun WhatsApp, keduanya tidak berhenti berbunyi. Ikrar di
Facebook dan laporan tugas di WhatsApp, keduanya berbunyi setiap beberapa
detik. Namun begitu semua masih dalam kendali, termasuk saya sendiri yang masih
mampu menguasai medan. Ceilaaah.
Keadaan
sekarang berbeda, saya menjadi asing dan buta peta di rumah yang sempat saya
tinggali selama dua tahun lamanya. Ya, saya bertahan 2 tahun menjadi PJ di KMO.
Awal tahun 2018 saya mengundurkan diri setelah angkatan 12 selesai dengan
alasan lelah dan ingin rehat sejenak dari kegiatan daring alias online. Selama
dua tahun saya meninggalkan KMO, saya cukup terselamatkan dari kebiasaan rutin
menggunakan ponsel.
Saya
jarang memeriksa Facebook yang biasanya bisa beberapa kali dalam satu jam.
WhatsApp pun demikian. Terlebih lagi Twitter dan Instagram. Twitter sudah entah
berapa tahun saya tutup buku, tidak pernah saya tengok barang sejenak. Baru
saya tengok beberapa bulan lalu kemudian saya tinggal lagi.
Sedangkan
Instagram saya juga bisa setahun sekali memeriksanya. Entah kenapa saya kurang
tertarik dengan Instagram. Banyak yang bagus dan menarik, tapi sepertinya
memang tidak nyantol di hati saya. Hehehe.
Singkat
cerita, masa hiatus saya berakhir tiba-tiba. Kembali lagi awal tahun ini setelah
salah satu PJ mengundurkan diri karena suatu musibah. Saya diminta menggantikannya
mungkin dengan 2 pertimbangan.
Pertama,
PJ yang mengundurkan diri adalah anggota saya ketika belajar di KMO dulu,
tepatnya angkatan 12. Kedua, mungkin karena ‘orang atas’ sudah mulai gatal
ingin membawa saya kembali. Pasalnya PJ seangkatan saya ya tinggal saya seorang
yang tersisa, mungkin setelah angkatan 10 kalau tidak salah. Yang lainnya ada
yang mengundurkan diri, vakum, ‘pindah tugas’ atau bahkan naik jabatan.
Diangkatan
ini, angkatan 20, saya benar-benar seperti orang hilang yang sama sekali tidak
menguasai keadaan. Setiap pertanyaan tidak mampu saya jawab dengan benar.
Pemilihan kata pun saya tak karuan, saya benar-benar tidak tau harus apa.
Canggung sengah mati.
Untunglah
tugas yang saya kerjakan sudah diujungnya. Jadi hanya tinggal hitung point
akhir dan sarapan kata lalu selesai.
Ada
satu hal lagi yang membuat saya kaget, yaitu ketua kelas. Jaman saya dulu tidak
ada yang namanya ketua kelas. Semua tugas dikerjakan oleh PJ seorang, dari
rekap tugas dan poin sampai rekap sarapan kata. Disinilah saya terkejut.
Ternyata sarapan kata direkap oleh anggota yang ditunjuk menjadi pemimpin di
grup kecil. Tugas ketua kelas juga melaporkan hasil rekap secara berkala.
Diawal
saya terkejut dengan ini, saya rekap semua tugas sarapan kata. Saya bikin tabel
sendiri seperti jaman saya jadi PJ dulu. Beruntung saya ada kesibukan sejak
subuh pas menjelang akhir sarapan kata, jadi saya bisa tenang tanpa rekap
sarapan kata.
Btw,
saya dulu nggak ikutan sarapan kata, hehehe. Karena dulu awal sarapan kata peserta nggak wajib ikut, jadi aman. Hehehe...
Komentar
Posting Komentar